Kamis, 24 Januari 2013

PROPOSAL PENELITIAN



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG

Perjalanan hidup seorang anak tidak selamanya berjalan dengan mulus. Beberapa anak dihadapkan pada pilihan yang sulit bahwa individu harus berpisah dari keluarga karena suatu alasan, menjadi yatim, piatu atau yatim-piatu bahkan mungkin menjadi anak terlantar. Kondisi ini menyebabkan adanya ketidak lengkapan di dalam suatu keluarga. Ketidak lengkapan ini pada kenyataanya secara fisik tidak mungkin lagi dapat digantikan tetapi secara psikologis dapat dilakukan dengan diciptakannya situasi kekeluargaan dan hadirnya tokoh-tokoh yang dapat berfungsi sebagai pengganti orang tua.
Menurut Hurlock (1997:213) masa remaja dikatakan sebagai masa transisi karena belum mempunyai pegangan, sementara kepribadianya masih menglami suatu perkembangan, remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisiknya. Remaja masih labil dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Remaja sebagai bagian dari generasi penerus yang menjadi tonggak sebagai individu yang bermakna pada hari kemudian diharapkan juga memiliki pemahaman tentang diri yang benar, hal tersebut sangat diperlukan bagi setiap orang dalam menjalani kehidupannya, sehingga di peroleh suatu gambaran yang jelas tentang dirinya dan supaya sremaja bias menjalankan apa yang sudah didapatkannya.
Pemahaman akan diri seseorang sangatlah mutlak untuk diketahui. Oleh karena itu semua orang harus mengerti tentang dirinya. Baik secara internal maupun secara eksternal. Ketika seseorang mengetahui kondisi dan gambaran tentang dirinya maka dia akan dapat menjalani hidupnya dengan nyaman dan juga memiliki rasa percaya diri yang kuat karena sudah memiliki pandangan diri yang jelas.
Dalam melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan, semua orang memiliki kemampuan dan keinginan yang berbeda. Salah satu faktor yang membuat seseorang dapat melakukan apa yang dia ingin lakukan adalah ketika dia memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk melakukannya. Ketika seseorang kurang memeiliki rasa percaya diri maka kemungkinan orang tersebut tidak akan dapat bergaul dengan sesama temannya, melakukan apa yang diinginkannya dan pergi sesuai keinginannya.
Remaja yang tinggal di panti asuhan mempunyai rasa rendah diri atau minder terhadap keadaan dirinya, tidak seperti teman-teman dalam kondisi keluarga normal. Hal ini berpengaruh terhadap pergaulan dengan lingkungan. Sementara itu masyarakat atau teman-teman dalam lingkungan sosial sering memberikan label negatif pada anak-anak panti asuhan tanpa melihat lebih jauh, mengapa atau bagaimana berbagai hal negatif ini akan terjadi. Adanya penyimpangan antara harapan dan kenyataan itulah, maka peneliti merasa perlu untuk meneliti hal tersebut.
Berdasarkan dari uraian di atas, maka rumusan masalah yang peneliti ajukan adalah apakah ada hubungan antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri pada remaja yang tinggal di panti asuhan. Oleh karena itu maka penelitian ini berjudul “Hubungan Antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri Pada Remaja Yang Tinggal Di Panti Asuhan”.

1.2. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui hubungan antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan ?
2.      Mengetahui pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan ?
3.      Mengetahui tingkat pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan ?

1.3. MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat dan kegunaan sebagai berikut:
1.      Manfaat teoritis : Dapat menambah wawasan pengetahuan mengenai pemahaman diri dan rasa percaya diri yang ada pada masa remaja.
2.      Manfaat praktis : Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan pendidik, guru,dan orang – orang yang berhubungan dengan panti asuhan dan anak anak asuhnya.


BAB II

KAJIAN PENELITIAN

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Pemahaman Diri (Self-Understanding)

Menurut Santrock (2003:333) Pemahaman diri (self – Understanding) adalah gambaran kognitif remaja mengenai dirinya, dasar, dan isi dari konsep diri remaja. Pemahaman diri menjadi lebih introspektif tetapi tidak bersifat menyeluruh dalam diri remaja, namun lebih merupakan konstruksi kognisi sosialnya. Pada masa remaja persinggungan antara pengalaman sosial, budaya dan norma yang berlaku mempengaruhi pada kognisi sosial remaja.

2.1.2. Percaya Diri (Self-Esteem)

Orang yang dikatakan memiliki kepercayaan diri ialah orang yang merasa puas dengan dirinya (Gael Lindenfield dalam Kamil, 1998: 3). Adapun gambaran merasa puas terhadap dirinya adalah orang yang merasa mengetahui dan mengakui terhadap ketrampilan dan kemampuan yang dimilikinya, serta mampu menunjukkan keberhasilan yang dicapai dalam kehidupan bersosial.

Ciri-ciri Orang Yang Percaya Diri

Menurut Hakim (2005: 5-6) ciri-ciri orang yang percaya diri antara lain :
1. Selalu bersikap tenang di dalam mengerjakan segala sesuatu;
2. Mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai;
3. Mampu menetralisasi ketegangan yang muncul di dalam berbagai situasi;
4. Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi di berbagai situasi;
5. Memiliki kondisi mental dan fisik yang cukup menunjang penampilannya;
6. Memiliki kecerdasan yang cukup;
7. Memiliki tingkat pendidikan formal yang cukup;
8. Memiliki keahlian atau keterampilan lain yang menunjang kehidupannya, misalnya ketrampilan berbahasa asing;
9. Memiliki kemampuan bersosialisasi;
10. Memiliki latar belakang pendidikan keluarga yang baik;
11. Memiliki pengalaman hidup yang menempa mentalnya menjadi kuat dan tahan di dalam menghadapi berbagai cobaan hidup;
12. Selalu bereaksi positif di dalam menghadapi berbagai masalah, misalnya dengan tetap tegar, sabar, dan tabah dalam menghadapi persoalan hidup.

Ciri-ciri Orang Yang Tidak Percaya Diri

Menurut Hakim (2005: 8-9) ciri-ciri orang yang tidak percaya diri antara lain :
1. Mudah cemas dalam menghadapi persoalan dengan tingkat kesulitan tertentu;
2. Memiliki kelemahan atau kekurangan dari segi mental, fisik, sosial, atau ekonomi;
3. Sulit menetralisasi timbulnya ketegangan di dalam suatu situasi;
4. Gugup dan kadang-kadang bicara gagap;
5. Memiliki latar belakang pendidikan keluarga kurang baik;
6. Memiliki perkembangan yang kurang baik sejak masa kecil;
7. Kurang memiliki kelebihan pada bidang tertentu dan tidak tahu bagaimana cara mengembangkan diri untuk memiliki kelebihan tertentu;
8. Sering menyendiri dari kelompok yang dianggapnya lebih dari dirinya;
9. Mudah putus asa;
10. Cenderung tergantung pada orang lain dalam mengatasi masalah;
11. Pernah mengalami trauma;
12. Sering bereaksi negatif dalam menghadapi masalah, misalnya dengan menghindari tanggung jawab atau mengisolasi diri, yang menyebabkan rasa tidak percaya dirinya semakin buruk.

2.2. DEFINISI OPERASIONAL
Pemahaman diri (self – Understanding) adalah gambaran kognitif remaja mengenai dirinya, dasar, dan isi dari konsep diri remaja dan lebih merupakan konstruksi kognisi sosialnya.
kepercayaan diri adalah kesadaran individu akan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, meyakini adanya rasa percaya dalam dirinya, merasa puas terhadap dirinya baik yang bersifat batiniah maupun jasmaniah.

2.3. Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari hipotesis dua arah yaitu Hipotesis alternative dan hipotesis Nol. Hipotesis benar jika Hipotesis alternative (Ha) terbukti kebenarannya.
Ha : adanya hubungan antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan
Ho : Tidak ada hubungan antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dalam penelitian ini adalah beberapa panti asuhan yang berada di Kecamatan Lowokwaru kota Malang yang akan dipilih secara acak yang mewakili dari kota Malang.

3.2. Rancangan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini diklasifikasikan dala penelitian kuantitatif deskriptif korelatif dimana penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai variable yang timbul dimasyarakat yang menjadi objek penelitian itu berdasarkan apa yang terjadi dan mencari hubungan antar variable yang diteliti. (Bungin,2006:36)

3.3. Teknik Pengumpulan Data

3.3.1. Observasi

Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrument. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi.

3.3.2. Dokumentasi

Metode dokumentasi dilakukan dengan cara mencari data tentang hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.

3.3.3. Wawancara

Adalah percakapan dengan maksud tertentu percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. (Moleong, 2000 : 135).

3.3.4. Angket

Metode angket adalah salah satu metode penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan yang berisi aspek yang hendak diukur, yang harus dijawab atau dikerjakan oleh subyek penelitian, berdasarkan atas jawaban atau isian itu peneliti mengambil kesimpulan mengenai subyek yang diteliti (Suryabrata, 1990).

3.3.5. Teknik Analisis Data

Karena penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, maka metode analisisi data yang digunakan adalah alat analisis yang bersifat kuantitatif yaitu model statistik. Hasil analisis nantinya akan disajikan dalam bentuk angka-angka yang kemudian dijelaskan dan diiterpretasikan dalam suatu uraian.


Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar